belajar semangat dari generasi sahabat

Berbagi sedikit ilmu yang baru aku dapatkan aku dapatkan dari sebuah buku yang berjudul propertic learning (belajar dengan cara kenabian). Buku yang banyak memberikan inspirasi, menyadarkan dan mengingatkan untuk terus belajar dan belajar.

kenapa generasi-generasi zaman Rasulullah merupakan generasi-generasi terbaik?apa keistimewaan generasi pertama islam hingga mampu melakukan lompatan luar biasa memimpin garda peradapan dunia? Sayyid Quthb menjelaskan, “kehebatan sahabat bukan semata-mata karena disana ada Rasulullah, sebab jika ini jawabannya berarti islam tidak rahmatan lil’alamin. Kehebatan mereka terletak pada semangat mereka untuk belajar lalu secara masimal berupaya untuk mengamalannya.”

Subhanallah, begitu banyak hal yang perlu kita perbaharui, niat yang seharusnya hanya kita tujukan pada ALLAH, belajar hanya untuk mendapatkan ridho ALLAH, belajar karena ingin mengenal ALLAH. Kita seharusnya menjadi insan-insan pembelajar yang berusaha sekuat tenaga untuk meningkatkan kapasitas yang ada di diri kita.

Dan tak ada sesuatu yang besar tanpa perjuangan yang besar untuk mendapatkannya. Tak hanya keinginan yang mengantarkan kita pada hasil yang besar. Keinginan yang besar yang senantiasa diniatkan hanya untuk ALLAH, kesungguh-sungguhan dalam menjalaninya, dan kekhusyukan ibadah yang mengiringinya. saat ini, dimana minat baca dikalangan kita yang begitu menurun, kebanyakan melakukan sesuatu yang bersifat kesia-siaan.

jika dibandingkan dengan sahabat-sahabat Rasulullah, dimana membaca adalah kehidupan mereka, menuntut ilmu secara sungguh-sungguh adalah cara mereka belajar. Setiap kita memiliki potensi untuk bisa mencapai puncak, menjadi generasi-generasi tangguh seperti generasi pertama rasulullah. Subhanallah…betapa inginnya kita seperti mereka.

Dalam buku propertic learning dijelaskan beberapa cara belajar yang menimba dari pengalaman generasi pemenang, dari khazanah sejarah emas islam. Menjadikan para muslim berprestasi sekaligus berandil di masyarakat. Sehingga kita tidak lagi bertanya-tanya : mengapa ilmu yang dimiliki di perguruan tinggi tidak memiliki efek dalam membentuk sikap individu keseharian pembelajarnya?

1. Bagaimana menjadi cerdas dengan menata pikiran? Seperti dalam sebuah buku yang berjudul berpikir dan berjiwa besar, disebutkan “bahwa anda adalah apa yang anda pikikan mengenai diri anda.”

Dimana kita harus melakukan program tafakkur.

Jawablah pertanyaan sederhana berikut dengan bisikan jiwa kita. “ anda sedang pulang kerumah. Beberapa saat sebelum anda berangkat ke kota tempat anda menuntut ilmu, ibu anda menyelipkan beberapa pesan ‘anakku berangkatlah! Ibu akan mendoakanmu. Belajarlah yang rajin. Jangan bermalas-malasan. Ingatlah, ibu sangat berharap padamu,nak.’Lalu sebuah kecupan dikening dan senyum keridhaan melepas kepergian kita.

Bagaimana suara hati kita? Biasakanlah berbincang akrab dengan suara jiwa. Bercakap-cakaplah dengan jiwa kita sendiri.percayalah bahwa ALLAH telah memberikan kita kecerdasan yang luar biasa dahsyatnya. Percayalah bahwa kita bisa dengan izin ALLAH. Mari kita bangun kepercayaan diri kita mulai saat ini, dengan menata pikiran-pikiran positif dalam jiwa kita. Bersemangatlah dalam mengerjakan sesuatu.

Jangan pernah takut untuk bermimpi besar, karena ALLAH maha pengabul doa-doa hambanya.

Mari kita bangkitkan islam dengan naungan ilmu yang akan kita selami, jangan pernah kita membiarkan kita larut dalam pikiran ketidak mampuan yang kita ciptakan sendiri. Bismillah tidak ada yang tidak mungkin, kita bisa jika kita mau.

2. Bagaimana menjadi cerdas dengan menata mental?

Ada beberapa langkah yag harus ditempuh dalam menata mental

a. Menumbuhkan kemauan : dengan menciptakan obsesi terhadap ilmu , mencintai setiap prosesnya, selalu merasa diawasi oleh ALLAH, dan bergeraklah.

b. Melahirkan efikasi diri : yaitu keinginan yang kuat untuk sukses, yang muncul dari keyakinan diri

c. Mendayakan kesabaram

d. Dan menunda kepuasan

3. Bagimana menjadi cerdas dengan menata sarana belajar?

Menciptakan suasana belajar yang bisa membuat kita berada dalam posisi rileks

4. Apa dan bagaimana kebiasaan-kebiasaan muslim pembelajar? Pada awalnya berpikir menumbuhkan keingintahuan. Keingin tahuan melahirkan perbuatan Dan perbuatan yang berulang-ulang melahirkan kebiasaan. Ibnu al-Qayyim al-Jauziya 5. Jadilah guru inspiratif

6. Dan belajarlah kerjasama. belajar dari semut, lebah, burung, anggota tubuh kita sendiri, bahkan banyak hal yang sudah menunjukkan bagaimana kesinergisan mereka dalam bekerjasama.

Semoga sedikit tulisan ini dapat membantu kita dalam langkah awal memasuki semester baru, semangat baru dan strategi yang baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s